Thursday, February 1, 2018

Pendakian Gunung Prau

Gunung Prau yang terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng , Jawa Tengah ini memiliki
tinggi 2.565 meter diatas permukaan laut . Gunung ini memiliki daya tarik sendiri untuk
para penikmat ketinggian . Termasuk saya yang sudah 6 kali mendaki di Gunung Prau .
Pastinya ada yang bertanya ya , apakah tidak bosan capek-capek jalan dan sudah sering
kesana ? ‘Tidak ada kata bosan menikmati ciptaan Tuhan yang Maha Besar ini’
Perjalanan yang ke enam 6 di Gunung Prau ini memang banyak berbeda dari yang
sebelum-sebelumnya . Kali ini saya hanya mendaki berdua saja dengan partner in mount .
Kami memang sudah sering melakukan pendakian bareng , tapi baru pertama ini saya
nanjak berdua dengan partner cewek dan membawa semua alat camping . Tapi tetep
safety hiking+camping yaa gaes walaupun isi carier lumayan berisi .
Saat itu kami memang lagi rindu dengan kabut , dan kami memutuskan untuk meluapkan
kerinduan ini di kabutnya Gunung Prau . Disamping liburnya yang mepet dan sikonnya
hari sabtu saya masih masuk kerja sampai setengah hari di Gunung Prau ini juga lebih
aman untuk melakukan pendakian yang bisa dibilang enteng . Bukan enteng karna
treknya ya gaes tapi karna jalur pendakian yang tidak panjang dan pasti ramai pendaki
lain . Jadi tetep aman kalau sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan .
Kami memulai perjalanan dari kota Semarang menggunakan sepeda motor . Pukul 16.00
tanpa membuang waktu kami langsung menuju basecamp Patak Banteng , dimana
basecamp ini menjadi basecamp favorite para pendaki dari dalam kota maupun luar kota
Wonosobo . Untuk menuju basecamp Patak Banteng kami mengambil jalur dari
Semarang Ngaliyan ke arah Boja , Sukorejo , Candi Roto , dan langsung lurus kami ambil
jalan yang melewati kebun teh Tambi . Kenapa saya tidak lewat kota Wonosobo ?
Karena kalau lewat kota Wonosobo terlalu jauh jika dari semarang , ya walaupun jalan di
kawasan kebun teh Tambi lumayan extream dan masih ada jalan berlubang . Yang penting
tetep doa dan berhati-hati ;)
Pukul 19.30 tepat kami sampai di basecamp Patak Banteng , kami pun istirahat sejenak
dan jangan lupa makan gaes biar kuat menghadapi kenyataan ( wkwkwk ) . Yang bener
menghadapi trek nya lah gaes . Setelah semua siap , kondisi badan sudah oke untuk
melakukan pendakian , simaksi sudah beres dan berdoa juga tidak lupa , tanpa mencari
barengan nanjak kami langsung gerak cepat supaya tidak terlalu malam sampai di puncak
.
Pendakian dimulai dari perumahan warga yang masih ramai dan ramah orang-orang nya .
Diperumahan warga ini banyak yang membuka peluang usaha di depan rumahnya , dari
yang berjualan makanan , kaos khasnya Gunung Prau , sticker Gunung Prau dan masih
banyak lainnya .
Selepas dari perumahan warga trek selanjutnya melewati jalan yang masih bisa di lewati
kendaraan bermotor , yaitu jalan berbatuan yang masih rapi . Dari jalan bebatuan ini tidak
jauh untuk sampai di Pos I , karna jaraknya yang tidak terlalu jauh kami hanya istirahat
sebentar . Karna di Pos I ini kita akan di cek untuk tiket masuknya , jadi tetep disimpen
ya jangan habis simaksi langsung dibuang .

Dan kami pun sampai di Pos I Sikut Dewo sekitar pukul 21.30 , cukup dekat gaes jarak
dari basecamp menuju Pos I . Apalagi sambil curhat sama temen dan pasti curhatnya
selalu tentang perasaan yang lagi sayang-sayangnya tapi malah ditinggalin ( hiks hiks ) .
Oke bongkar dikit curhatan kemaren yaa hehe . Next , kami masih menikmati perjalanan
yang sudah mulai ada anak tangganya . Ini nih medan paling bikin krasa capek ! Anak
tangga . Oh Tuhan dengkul rasanya sudah ga mau di ajak kompromi kalau ketemu jalur
kaya gini . Apalagi di Gunung Prau hampir 40% jalurnya dibikin anak tangga gini gaes .
Bersabarlah kalian yaa :D
Tanpa memakan waktu yang lama , Pos II Canggal Walangan sudah kelihatan setelah
berjalan kurang lebih 30 menit . Di Pos II ini kami sudah mulai bertemu dengan pendaki
lain . Bener-bener The Winner kita mah , bukannya ketinggalan tapi malah menyusul
pendaki lain . Ya walaupun nafas masih terengah-engah tapi kita tetep semangat
menjalani kehidupan ini meski tanpa penyemangat ( Curhat lagi deh ) .
This is it Pos III Cacingan , tepat pukul 22.45 kami sampai di Pos III gaes . Kali ini kami
menghabiskan hampir 10 menit untuk beristirahat dan menikmati udara sebelum trek dari
Pos III sampai ke puncak yang sangat menguras tenaga . Medan yang dilalui di Pos III ini
hampir anak tangga semua , jadi siapkan fisik yang lebih . Banyak para pendaki senior
pun mengeluh lewat jalur ini . Lalu apa kabar kami ? ( haha )

Pantai Greweng

Entah ada fikiran apa , weekend singkat 13 Januari 2018 kemaren adek saya yang masih
berusia 10 tahun kelas 3 SD mengajak liburan . Katanya sih pengen foto di tenda seperti
foto-foto di galeri handphone saya . Lah saya bingung mau ngajak kemana nih bocah 10
tahun ? Kalau saya ajak ke gunung gak mungkin dapet ijin sama ibu . Akhirnya accept
juga ijinnya ke pantai gaes . Oke lah kesekian kalinya camping di pantai bareng 2
ponakan saya , yang 1 umur 18 tahun bulan november 2017 kemaren dan yang 1 yang
masih berusia 10 tahun tadi .
Semua alat udah siap dan tujuan pantai juga sudah jelas . Yes , Pantai Greweng tujuan
kami . Untuk akses menuju Pantai Greweng sangat mudah , cuma saja saya ini orangnya
terlalu pede . Dan akibat kepedean saya ini berakhir nyasar sampai di kabupaten
Pacimantoro Wonogiri ( wkwkwk ) . Pantai Greweng ini berlokasi di dekat Pantai
Wediombo . Tentu saja sudah tidak asing kan mendengar Pantai Wediombo daripada
Pantai Greweng ? Karna pantai ini terletak bersebelahan dan dulu saya pernah ke Pantai
Wediombo makanya saya pede ngasih aba-aba tanpa membuka goegle maps .
Seharusnya perjalanan yang kami tempuh dari Kota Klaten sampai ke lokasi Pantai hanya
memakan waktu sekitar 3 jam . Karna ada insiden kesasar tadi akhirnya hampir 4 jam
saya baru sampai ke Pantai Greweng . Yang kata teman saya pantai ini sangat eksotis dan
bagus untuk mengambil angel foto bak anak pantai kekinian . Selain pantainya yang
eksotis , Pantai Greweng ini juga memilik ciri khas yang begitu unik dibandingkan
pantai-pantai lainnya . Selain ciri khas bibir pantai yang diapit oleh 2 bukit ini , Pantai
Greweng juga memiliki akses perjalanan kaki yang lumayan jauh .
Saya memang penikmat jalan kaki beribu-ribu mdpl , seperti jalur pendakian gunung-
gunung di jawa . Tapi saya juga tidak kalah update untuk menikmati pantai hitz di
kabupaten Gunung Kidul . Dan ini salah satu pantai yang aksesnya harus mengorbankan
energi cukup banyak #fyuhhh
Akses menuju bibir pantai ini kita akan diantar oleh seorang bapak-bapak menuju jalur
kecil di tengah-tengah kebun warga . Itulah jalur yang nantinya akan kita lalui dengan
senyum dan semangat ( haha ) . Jalurnya sih kalau untuk pejalan orang dewasa sekitar 30
menit , tapi karna saya sedang menjadi Mami dadakan bawa anak kecil ya hampir 60
menit sampai di Pantai Greweng . Selain ngajak anak kecil , jalur juga sangat extream
setelah ada turun hujan malemnya . Efek air hujan alhasil jalanan becek ga ada bebek ga
asekkk lah :(
Sempat BT sih lihat jalur yang becek dan licin , tapi no problem . Semua terbayar dengan
pesonanya Pantai Greweng ini gaes . Ombak yang menari-nari dan merdunya gemuruh
angin pantai yang benar-benar jadi obat penat setelah beberapa hari bergelut dengan suara
telpon kantor , dengan layar komputer yang isinya cuma angka dan suara orang-orang
minta ini itu .

Sudahlah lupakan sejenak hiruk pikuk meja kerja , saatnya refresh otak yang setiap hari
berteriak ‘aku ajakin piknik dong , ayolah piknik , kapan pikniknya nih’ ( hiks ) .
Tanpa membuang-buang waktu gaes kami pun bergegas mendirikan tenda di pasir pantai
yang empuk dan semilir angin yang pelan-pelan mulai masuk di bagian otak sebelah kiri (
haha sok tau )
Tapi sedikit kurang beruntung perjalanan kali ini , pukul 21.00 grimis manis udah dateng
aja . Angin lumayan kenceng dan banyak tenda yang nggak kuat pasaknya . Memang
kalau di pantai seharusnya pasak tenda harus ditumpukin batu gaes , supaya lebih
kencang . Karna pasak memang lebih kuat jika di area tanah dibandingkan di area pasir
(Ini saran gaes dari pengalaman saya kemaren) .

Pendakian Gunung Merbabu

Gunung Merbabu ? Siapa sih pendaki yang tidak mengenal gunung yang satu ini ?
Selain mempunyai jalur pendakian yang banyak , gunung ini mempunyai daya tarik yang
sangat amat banyak diminati para pendaki . Entah dari Jawa atau dari luar Jawa . Banyak
yang bilang bahwa Gunung Merbabu selalu bikin rindu . Nyatanya memang iyaa gaes ,
Saya yang ketiga kalinya mendaki Gunung Merbabu ini dan tidak ada bosannya .
Kali ini saya akan berbagi pengalaman mendaki Gunung Merbabu via Selo lama .
Gunung yang mempunyai tinggi 3.428 meter diatas permukaan laut ini mempunyai
hamparan sabana yang sangat luas , jika temen-temen mendaki dari Selo ya . Karna
sabana ini hanya ditemui di jalur pendakian via Gancik , Selo , dan Suwanting .
31 Desember 2017 kami 7 orang dari semarang , 3 cewek dan 4 cowok . Dengan
menggunakan sepeda motor kami start pukul 21.00 dan sampai di Basecamp pukul 22.30
. Tidak susah mencari basecamp ini , karena sebelumnya saya sudah pernah kesini ( hehe
) . Setelah sampai di Basecamp kami beristirahat untuk melakukan pendakian esok
harinya .
Habis gelap terbitlah terang gaes , pepatah mengatakan seperti itu . Karna terang sudah
kelihatan kami mulai melakukan pendakian mulai pukul 07.30 . Ya teman saya 2 cewek
ini baru pertama naik gunung makanya kami tidak mau terlalu siang , biar sampainya
tidak terlalu gelap dan istirahatnya bisa lama .
Simaksi di Gapura Pendakian Gunung Merbabu dengan harga tiket yang sangat
terjangkau , Rp.5,000/orang dan asuransi Rp.1,000/orang . Ini nih kelebihannya gunung
di Jawa Tengah , gunung yang sangat menarik harga tiket nya juga tidak mahal . Menurut
saya kelas pelajar banget harga tiketnya gaes .
Saat itu cuaca masih bersahabat , tidak terlalu panas juga tidak mendung . Sip lah buat
mendaki di musim hujan .
2 jam berlalu kami sudah sampai di pos 1 Dok Malang Gunung Merbabu via Selo , tidak
begitu mengecewakan sih ngajak pemula naik di gunung ini . Karna treknya juga tidak
terlalu nanjak , masih banyak bonus-bonus landai . Jadi cocok banget buat para pemula
lewat jalur Selo .
Beristirahat hampir 20 menit dan sambil foto-foto pacar orang . Eh mengambil foto
sendiri maksudnya ( haha ) . Setelah menghilangkan lelah di pos I kami melanjutkan
pendakian menuju pos II tikungan macan . Dari pos I sampai ke pos II tidak terlalu jauh ,
kami hanya memakan waktu sekitar 60 menit . Karna medan sudah mulai anarki jadi
temen saya bilang “ Pelan-pelan yaa mbak yang penting sampai” . Sambil mengambil
nafas dan masih ngos-ngosan :D
Jangan melewatkan setiap momen indah di masing-masing pos ya gaes . Di pos II ini kita
sudah bisa menikmati pemandangan yang sangat indah . Ada juga yang mendirikan tenda
di area ini , karena cukup rata namun tidak terlalu luas .
Dari pos II menuju pos III ini masih terbilang landai , lama perjalanan hampir 60 menit .
Karena kami pejalan santai , yang bikin lama itu kita menikmati pemandangan sambil

pelan-pelan dan wajib foto selfie . Harus sabar deh kalau suatu saat nanjak bareng kita .
Vegetasi pos III ini mulai dipenuhi dengan bunga abadi . Yaitu bunga edelweys yang
sangat cantik , dan disinilah kita menemukan titik keindahan sabananya merbabu .
Mengingat perjuangan yang belum selesai , setelah mengisi amunisi di pos III Batu Tulis
kami bergegas menuju Sabana I . Yesssss , disinilah kita mulai jalur yang sesungguhnya .
Medan sudah nanjak dan berat , sangat licin jika melewati jalur ini selepas hujan . Jadi
tetep waspada dan berhati-hati .
Karna cuaca pun sudah mulai tidak berteman , kabut turun dan grimis tipis kami
memutuskan untuk camping di sabana I . Di sabana I adalah tempat camp paling aman di
banding pos III gaes , karna di pos III rawan terkena badai dan jarang pepohonan . Jadi
disarankan kalau mendaki dari via Selo , lebih baik camp di sabana I atau sabana II .
Keesokan harinya cuaca masih buruk dan terlihat gelap puncak Gunung Merbabu ,
sepakat team untuk tidak melakukan summit . Disamping tidak mendapat view yang
bagus kami juga menghindari jika di atas ada badai .

Pendakian Gunung Papandayan

Perjalanan menuju Gunung Papandayan yang menjadi perjalanan saya seorang diri dari
Kota Klaten . Saya start dari Stasiun Klaten yang saat itu tiket gratisan dari temen ( hehe )
. Mulai pukul 13.30 kereta dari Stasiun Klaten menuju Stasiun Cibatu . Mungkin karna
saya datang dengan perasaan cinta ( cieileh ) jadi saya sempet blank , dari mencari tempat
duduk salah terus satu kursi dengan orang yang entahlah nggak usah membahas kelebihan
orang lain . Dan apesnya saya salah turun stasiun ( wkwk ) . Gaes , padahal di tiket kereta
udah jelas tujuan Stasiun Cibatu , tapi karna saya blank saya turun di Stasiun Cipeundeuy
. Yang harusnya sampai Stasiun Cibatu pukul 21.51 menurut tiket , saya turun persis
pukul 21.00 di Stasiun Cipeundeuy . Teman saya yang jadwalnya jemput masih kena
macet di Bekasi . Maklum lah hari itu pas libur lebaran haji , jadi jalanan pasti macet .
Dan akhirnya sampai pukul 00.00 belum ada yang jemput , akhirnya saya di tawarain
security untuk beristirahat di Mushola Stasiun Cipeundeuy .
Subhanaallah gaes saya di jemput pukul 04.00 subuh ( Oh My God ) . Mau nampar orang
rasanya . Oke OTW menuju terminal garut untuk berkumpul dengan rombongan lain .
Dan parah lagi udah di jemputnya telat 1 abad perjalanan menuju Terminal Garut pun
masih nyasar juga :( ( salah apa saya haha ) . Sampai di Terminal Garut pukul 05.30
dengan transport mobil , tapi pake nyasar makanya hampir 1,5 jam baru sampai di
Terminal Garut .
Setelah berkumpul dengan rombongan Bekasi , kami silahturahmi dulu gaes di rumah
salah satu teman kami . Sambil melakukan sholat id dan istirahat , gak kalah juga sarapan
gratis cuy :D
Setelah semua selesai pukul 08.00 kita OTW menuju Basecamp Gunung Papandayan
menggunakan pick up dari warga sekitar . Tepat pukul 09.30 sampai di Basecamp
Gunung Papandayan , langsung simaksi dan bersiap-siap untuk melakukan pendakian .
Saat itu cuaca terik dan sangat mendukung , istilahnya itu Dewi Fortuna sedang berpihak
kepada kita . Gas tipis-tipis dengan modal cerita dan tawa yang banyak dirasakan saat
pendakian tersebut . Lelah perjalanan dari pukul 11.00 siang itu cukup membuat badan
kehilangan banyak cairan , tapi kembali ke cerita awal tadi . Karna semuanya beralasan
rasa cinta jadi semua berasa kaya mati rasa , udah enak aja jalan deh . Panas yaa tetep
adem , haus ya tetep enak rasanya . ( wkwkk mulai lebay ) .
Satu jam berlalu dari basecamp sampai ke Kawah Gunung Papandayan . Kawah yang
memiliki luas sekitar 10 Ha ini masih aktif gaes , belerangnya masih sangat kerasa .
Dan kalau terlalu lama istirahat di area kawah rasanya nggak bener . Kami pun langsung
melanjutkan pendakian , karna dari awal kita sudah sepakat untuk camping di Gubber
Hood maka kami ambil jalur ke kanan . Mungkin yang ingin memotong jalan dan
langsung ingin menikmati Hutan Mati bisa ambil jalur yang kiri .
Sepanjang pendakian dari kawah ke Gubber Hood kami disuguhkan pemandangan yang
sangat luar biasa , melewati sungai yang airnya masih bening dan dingin , pemandangan
Kota Garut sangat jelas . Pokoknya tidak rugi jauh-jauh dari Klaten , mungkin kalau ada
gratisan gini lagi nggak cuma 2 atau 3 kali gaes ( ngarep banget cuy haha )
Sampailah di Gubber Hood pukul 15.30 , Kami pun langsung mencari area camp untuk

istirahat . Ya , di Gubber Hood ini katanya area paling cocok untuk menikmati sunrise di
Gunung Papandayan . Selain tempat yang mantap , disini juga sudah tersedia Toilet ,
Mushola dan hal paling disukai pendaki kalau di atas gunung yaitu Warung . Haha , disini
warung buka 24 jam jadi nggak usah ketakutan kalau kehabisan logistik . Dari mulai
cilok , mendoan goreng , indomie dan cemilan-cemilan disini sudah tersedia .
Karna saya tipe orang yang kalau tidur susah bangun dimanapun itu , saya melewatkan
sunrise hari pertama . Yasudahlah masih ada pagi besok untuk menjemput sunrise
Gunung Papandayan . Kami memang sengaja untuk benar-benar menikmati udara disini
gaes , karna dari pagi sampai siang cuaca sangat panas kamipun hanya duduk , bercerita ,
tertawa dengan dia wkwkwk ( Dia siapa ? ) Setelah cuaca sedikit enak , kami menuju
Hutan Mati . Pukul 15.00 kami mulai pendakian , medan yang dilalui pun tidak terlalu
curam . Hanya di tengah Hutan dan banyak jalan landai nya .
Jarak tempuh sampai ke Pondok Saladah hanya sekitar 45 menit . Dan sampailah di
Pondok Saladah , saya pun terkejut saat sampai di Pondok Saladah . Subhanaallah ,
benar-benar ciptaan-Mu yang sangat luar biasa . Area Pondok Saladah ini seperti
dikelilingi bukit yang semua berwarna hijau , seolah-olah udara disini bener-bener bikin
pikiran relaks . Ini lah yang bikin saya penasaran terus dengan gunung di Jawa . Semua
memiliki ciri khas dan bentuk keindahannya masing-masing .

Setelah puas menikmati udara di Pondok Saladah kami melanjutkan ke tujuan akhir yaitu
Hutan Mati . Sekitar 30 menit trek yang kami lalui , tidak terlalu jauh sih dari Pondok
Saladah . Dan kami sudah bisa menikmati pemandangan yang unik di Hutan Mati ini .
Bagaimana tidak ? Pohon yang terlihat hitam , kering dan tanpa daun ini memiliki tanah
yang berwarna putih . Walaupun terlihat sedikit suram agak merinding juga pas sampai di
Hutan Mati . Yaa campur-campur bisa sampai di tempat yang se eksotis ini , dari kawah
nya yang masih aktif , area Gubber Hood yang sangat TOP BGT , Pondok Saladah yang
mempesona dengan warna hijau berudara surga ( kek pernah ke surga haha ) dan Hutan
Mati yang mempunyai kesan suram . Namun kesan suramnya seakan hilang sih seiring
kaki menginjakan di tempat terindah ini dan dengan orang yang istimewa ini pastinya .